Selasa, 02 Desember 2014

Berhematlah..!! Tahun 2015 tidak akan lebih baik dari tahun sekarang.




Berhematlah..!!,........  Tahun 2015 tidak akan lebih baik dari tahun sekarang.

Utamakan Kebutuhan, Tunda Dulu Keinginan 

Hidup hemat merupakan awal kebahagiaan kita di masa depan, di jaman yang serba sulit ini, dengan tingkat persaingan hidup dan kebutuhan hidup yang semakin meningkat memaksa kita untuk hidup berhemat. Sedapat mungkin kita mempererat pengeluaran. Jangan sampai terjadi besar pasak daripada tiang. Sungguh sangat berbahaya dan dapat menyulitkan. Karena itu, manfaat hidup secara hemat akan sangat terasa pada jaman seperti ini. Seharusnya kita mulai berpikir dan bertindak hemat dalam segala hal. Tingkat pengeluaran untuk menutup kebutuhan hidup semakin membengkak sehingga penghasilan yang kita peroleh sebulan hanya cukup untuk makan. Apalagi harga barang-barang semakin mahal. Tingkat  perubahan harga barang seringkali tidak wajar, seakan harga barang adalah sebuah permainan semata.  Dalam kondisi kehidupan yang fluktuatif ini, segala hal dapat mengalami perubahan yang serba mendadak dan sangat mencengangkan. Hal ini jika tidak kita antisipasi dengan langkah hidup hemat, tentunya kita sendiri yang kalang kabut harus memenuhi kebutuhan hidup kita.

Memang, kita tidak dapat menurunkan harga barang begitu saja. Apalagi jika kita hanya berposisi sebagai konsumen. Kita harus mengikuti permainan di lingkungan ekonomi tersebut. Dan, seringkali, konsumen adalah korban dari setiap perubahan harga yang terjadi pada barang-barang, khususnya barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari. Sementara yang seringkali fluktuatif adalah harga barang kebutuhan sehari-hari ini. Oleh karena itu, maka kita harus mengencangkan ikat pinggang. Itu artinya kita harus mulai menerapkan pola hidup hemat. Dalam segala hal kita harus berhemat, baik untuk keperluan keluarga, masyarakat, maupun bangsa. Ini sangat penting sebab ke depannya, kondisi kehidupan semakin ketat.

Butuh sebuah usaha dan strategi yang matang untuk dapat melakukan hal ini. kita perlu untuk mengekang sekuat tenaga keinginan kita agar dapat melakukan hal penghematan dalam hidup hemat. Hemat bukan berarti pelit atau tidak mau untuk mengeluarkan uang untuk sebuah kepentingan tertentu. Hemat adalah memaksimalkan uang yang ada hanya untuk kebutuhan yang dianggap penting saja

kita kihat ekonomi secara makro dan beberapa pendapat ahli ekonomi
Melemahnya Rupiah (depresiasi) terhadap Dolar AS sebenarnya tidak terlalu buruk dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya. Depresiasinya hanya sebesar 8%, jauh dibanding depresiasi Rupee (India) yang sebesar 19% atau Yen (Jepang) yang mencapai 33%.
Meski begitu, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gajah Mada (UGM), Tony Prasentiantono, meminta pemerintah untuk segera mengambil langkah kebijakan untuk menyelamatkan Rupiah agar tidak terdepresiasi lebih dalam lagi. Apalagi, pelepasan aset surat berharga menjadi Dolar AS sepekan ini telah mengakibatkan indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok.
“Sekarang ini kan pada nyabut untuk beli Dolar AS, saham dijual untuk beli dolar. Bahkan sekarang  ibu rumah tangga juga beli Dolar AS,” ujar Tony Prasentiantono dalam diskusi Prospek Investasi 2014  OCBC NISP di Jakarta.
Langkah kebijakan yang yang harus segera dilakukan menurut Tony adalah Bank Indonesia (BI) agar menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate. Dia memperkirakan BI Rate sebaiknya naik 50 basis poin menjadi 7%.
“Inflasi YoY (year on year) Indonesia 8,61% tidak berimbang dengan BI Rate saat ini yang 6,5%, akibatnya likuiditas Rupiah ditukar ke valas,” jelasnya.
Meski pemerintah perlu menjaga Rupiah agar tidak terlalu dalam, namun Tony menilai mata uang ini harus dijaga di atas Rp 10 ribu per US$.
“Baru-baru ini dalam RAPBN 2014 dipatok Rp 9.750 per US$ , ini tidak realistis. Karena neraca perdagangan kita kan defisit. Karena defisit perdagangan yang lemah, maka Rupiah perlu dijaga agar tidak terlalu terapresiasi.  Prediksi saya Rupiah 2014 masih di atas Rp 10 ribu per US$.”
Komite Ekonomi Nasional (KEN) menilai Indonesia selama ini terlalu membanggakan diri dengan daya tahan ekonomi yang diklaim cukup kuat. Buktinya, pertumbuhan ekonomi diatas 6% diperkirakan takkan kembali berlanjut akibat gejolak perekonomian dunia yang memberi tekanan signifikan.
Ketua KEN Chairul Tanjung  menjelaskan perekonomian kawasan Eropa yang sebelumnya sempat terperosok dalam situasi resesi diperkirakan bakal lebih tenang pada 2014. Bahkan tahun depan, kawasan Eropa akan tumbuh lagi. Kejutan justru terjadi di Amerika Serikat (AS), negara yang sebelumnya dianggap lebih stabil dibandingkan negara-negara maju lainnya di dunia.
Dalam setahun terakhir, pasar keuangan dunia dibuat gejolak akibat pengaruh isu tapering off,  batas utang AS, dan shutdown  pemerintah federal AS.   Kondisi tersebut membuat modal asing segera keluar dari negara berkembang yang berdampak pada pelemahan hampir seluruh mata uang negara berkembang. Investor seolah masih menganggap aset dalam bentuk dolar AS sebagai safe heaven ketika ketidakpastian global meningkat.
"Dari semua faktor yang ada maka ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 5,7% hingga akhir tahun ini, jauh di bawah perkiraan semula sebesar 6,3%,"  ujar Chairul  ketika ditemui di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (3/12/2013).
Chairul menilai kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) memang bertujuan mengedalikan inflasi dan defisitf neraca transaksi berjalan. Sayangnya, kebijakan tersebut bagaikan pisau bermata dua. Investor menyadari bahwa tingginya bunga acuan dapat mengendalikan inflasi dan nilai tukar namun juga berimbas pada perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Kondisi ini memicu sentimen negatif terhadap perekonomian Indonesia yang ditandai dengan penarikan modal asing ke luar negeri. Akibatnya nilai tukar rupiah terus terpersok bahkan melewati Rp 11.500 per dolar AS.
"Ketidakpastian global dan domestik ternyata lebih tinggi dari perkiraan semula, ternyata sulit mengantisipasi dengan akurat apa yang akan terjadi, walaupun hanya satu tahun kedepan," tegasnya.
KEN menilai ketidakpastian ekonomi global maupun domestik masih akan tinggi pada 2014  meski banyak pihak berharap perekonomian dunia akan sedikit lebih baik. Ekonomi dunia masih harus menghadapi risiko yang sama besarnya dari kejutan yang dibuat AS terkait kebijakan tapering maupun isu batas utang dan anggaran yang belum tuntas.
Dengan berbagai risiko yang muncul, KEN memperkirakan faktor global dan domestik masih akan terus menekan laju ekonomi Indonesia.
Rupiah diperkirakan terus mengalami pelemahan hingga pertengahan tahun 2014 mendatang. Hal ini dipengaruhi penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden pada tahun depan.
Ekonom Senior Standard Chartered,  Fauzi Ichsan mengatakan, rupiah akan terus mengalami pelemahan ke arah Rp 12.500 pada semester pertama.
"Semester pertama rupiah akan melemah ke arah Rp 12.500 karena tekanan dari tapering quantitative easing. Menurut Fauzi, perbaikan neraca perdagangan serta memperbaiki posisi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga akhir tahun ini hanya akan tergantung pada kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) dengan kebijakan kontraksi fiskal dan pengetatan moneter.
"Pada masa Suharto, kontraksi fiskal bisa dilakukan dengan membatalkan proyek-proyek besar dan menaikan harga BBM, tetapi sekarang hal itu tidak bisa karena mau pemilu, sehingga sekarang diserahkan ke BI," lanjutnya.
Selain itu, dia memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun depan akan mencapai 5,8% karena dibantu oleh stimulus oleh pemilu. Namun tingkat inflasi akan menurun karena kemungkinan pemerintah tidak akan menaikan harga BBM. Defisit neraca berjalan juga diperkirakan mengalami menurunan dari US$ 3,2 miliar dolar menjadi US$ 2,8 miliar.
"Jadi siapapun yang akan menjadi Presiden pada tahun depan, dia harus mengeluarkan kebijakan pro investor karena kita tidak punya pilihan lain kecuali Indonesia surplus pada neraca berjalan," jelasnya.
Kembali melemahnya rupiah terhadap terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal memberikan dampak terhadap komoditas impor. Ketidakstabilan inilah yang kini menyelimuti pengusaha makanan dan minuman mengingat ketergantungannya pada bahan baku impor.
"Meski bahan bakunya dipasok oleh industri dalam negeri, tapi sebagian besar masih impor, misalnya gula impor seperti gula rafinasi kan dari raw sugar masih impor. Kemudian kedelai impor, jagung impor, terigu impor, hampir semua masih impor," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman di Jakarta.
Meski saat ini belum berdampak besar, pelemahan rupiah yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama dikhawatirkan memukul industri makanan dan minuman nasional.
"Sekarang akan berdampak langsung pada produksi karena sebagian besar bahan baku impor. Sehingga pengaruhnya sangat signifikan. Rupiah sendiri sudah terdepresiasi tentu akan berpengaruh secara langsung," lanjutnya.
Hingga kini kalangan pelaku usaha mengaku masih kesulitan menghitung dampak dari pelemahan rupiah yang telah berlangsung sejak dua bulan lalu. "Kami kesulitan menghitung patokan kursnya karena tadinya sudah stabil Rp 11.500 sekarang belum ada patokan kursnya," katanya.
Ditambahkannya, pelemahan rupiah yang berlangsung hingga tahun depan hanya akan membuat industri makanan dan minuman terpaksa menaikan harga jual produknya.
Tak hanya kurs rupiah, pelaku usaha juga mengaku harus menghitung dampak dari kenaikan upah minimum provinsi (UMP) pada biaya produksi perusahaan. "Gas juga sedang dalam pembahasan, nanti meski harga gas tidak naik tapi tetap saja bayarnya pakai dolar jadi sama saja," jelasnya.
Melihat kondisi tersebut, GAPMMI berharap pemerintah mampu segera menstabilkan nilai tukar rupiah agar pelaku usaha dapat menjalankan bisnis dengan baik.
Ketidakpastian kebijakan stimulus di Amerika Serikat (AS) ternyata menyebabkan terjadinya pelepasan aset untuk ditukar ke Dolar AS. Akibatnya, Dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang dunia, termasuk Rupiah yang kini berada di level Rp 11 ribu per US$.

------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar