Berhematlah..!!,........ Tahun 2015 tidak akan lebih baik dari tahun
sekarang.
Utamakan Kebutuhan,
Tunda Dulu Keinginan
Hidup
hemat merupakan awal kebahagiaan kita di masa depan, di jaman yang serba sulit
ini, dengan tingkat persaingan hidup dan kebutuhan hidup yang semakin meningkat
memaksa kita untuk hidup berhemat. Sedapat mungkin kita mempererat pengeluaran.
Jangan sampai terjadi besar pasak daripada tiang. Sungguh sangat berbahaya dan
dapat menyulitkan. Karena itu, manfaat hidup secara hemat akan sangat terasa
pada jaman seperti ini. Seharusnya kita mulai berpikir dan bertindak hemat
dalam segala hal. Tingkat pengeluaran untuk menutup kebutuhan hidup semakin
membengkak sehingga penghasilan yang kita peroleh sebulan hanya cukup untuk
makan. Apalagi harga barang-barang semakin mahal. Tingkat perubahan harga barang seringkali tidak wajar,
seakan harga barang adalah sebuah permainan semata. Dalam kondisi kehidupan yang fluktuatif ini,
segala hal dapat mengalami perubahan yang serba mendadak dan sangat
mencengangkan. Hal ini jika tidak kita antisipasi dengan langkah hidup hemat,
tentunya kita sendiri yang kalang kabut harus memenuhi kebutuhan hidup kita.
Memang,
kita tidak dapat menurunkan harga barang begitu saja. Apalagi jika kita hanya
berposisi sebagai konsumen. Kita harus mengikuti permainan di lingkungan
ekonomi tersebut. Dan, seringkali, konsumen adalah korban dari setiap perubahan
harga yang terjadi pada barang-barang, khususnya barang-barang kebutuhan hidup
sehari-hari. Sementara yang seringkali fluktuatif adalah harga barang kebutuhan
sehari-hari ini. Oleh karena itu, maka kita harus mengencangkan ikat pinggang.
Itu artinya kita harus mulai menerapkan pola hidup hemat. Dalam segala hal kita
harus berhemat, baik untuk keperluan keluarga, masyarakat, maupun bangsa. Ini
sangat penting sebab ke depannya, kondisi kehidupan semakin ketat.
Butuh
sebuah usaha dan strategi yang matang untuk dapat melakukan hal ini. kita perlu
untuk mengekang sekuat tenaga keinginan kita agar dapat melakukan hal
penghematan dalam hidup hemat. Hemat
bukan berarti pelit atau tidak mau untuk mengeluarkan uang untuk sebuah
kepentingan tertentu. Hemat adalah memaksimalkan uang yang ada hanya untuk
kebutuhan yang dianggap penting saja
kita
kihat ekonomi secara makro dan beberapa pendapat ahli ekonomi
Melemahnya
Rupiah (depresiasi) terhadap Dolar AS sebenarnya tidak terlalu buruk
dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya. Depresiasinya hanya sebesar 8%,
jauh dibanding depresiasi Rupee (India) yang sebesar 19% atau Yen (Jepang) yang
mencapai 33%.
Meski
begitu, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik
Universitas Gajah Mada (UGM), Tony
Prasentiantono, meminta pemerintah untuk segera mengambil langkah kebijakan
untuk menyelamatkan Rupiah agar tidak terdepresiasi lebih dalam lagi. Apalagi,
pelepasan aset surat berharga menjadi Dolar AS sepekan ini telah mengakibatkan
indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok.
“Sekarang
ini kan pada nyabut untuk beli Dolar AS, saham dijual untuk beli dolar. Bahkan
sekarang ibu rumah tangga juga beli Dolar AS,” ujar Tony Prasentiantono
dalam diskusi Prospek Investasi 2014 OCBC NISP di Jakarta.
Langkah
kebijakan yang yang harus segera dilakukan menurut Tony adalah Bank Indonesia
(BI) agar menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate. Dia memperkirakan BI Rate
sebaiknya naik 50 basis poin menjadi 7%.
“Inflasi
YoY (year on year) Indonesia 8,61% tidak berimbang dengan BI Rate saat ini yang
6,5%, akibatnya likuiditas Rupiah ditukar ke valas,” jelasnya.
Meski
pemerintah perlu menjaga Rupiah agar tidak terlalu dalam, namun Tony menilai
mata uang ini harus dijaga di atas Rp 10 ribu per US$.
“Baru-baru
ini dalam RAPBN 2014 dipatok Rp 9.750 per US$ , ini tidak realistis. Karena
neraca perdagangan kita kan defisit. Karena defisit perdagangan yang lemah,
maka Rupiah perlu dijaga agar tidak terlalu terapresiasi. Prediksi saya Rupiah 2014 masih di atas Rp 10 ribu per US$.”
Komite
Ekonomi Nasional (KEN) menilai
Indonesia selama ini terlalu membanggakan diri dengan daya tahan ekonomi yang
diklaim cukup kuat. Buktinya, pertumbuhan ekonomi diatas 6% diperkirakan takkan
kembali berlanjut akibat gejolak perekonomian dunia yang memberi tekanan signifikan.
Ketua
KEN Chairul Tanjung menjelaskan perekonomian kawasan Eropa yang
sebelumnya sempat terperosok dalam situasi resesi diperkirakan bakal lebih
tenang pada 2014. Bahkan tahun depan, kawasan Eropa akan tumbuh lagi. Kejutan
justru terjadi di Amerika Serikat (AS), negara yang sebelumnya dianggap lebih
stabil dibandingkan negara-negara maju lainnya di dunia.
Dalam setahun terakhir, pasar keuangan dunia dibuat
gejolak akibat pengaruh isu tapering
off, batas utang AS, dan shutdown pemerintah federal AS. Kondisi tersebut membuat modal asing segera
keluar dari negara berkembang yang berdampak pada pelemahan
hampir seluruh mata uang negara berkembang. Investor seolah masih menganggap
aset dalam bentuk dolar AS sebagai safe
heaven ketika ketidakpastian global meningkat.
"Dari
semua faktor yang ada maka ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 5,7% hingga
akhir tahun ini, jauh di bawah perkiraan semula sebesar 6,3%," ujar Chairul ketika ditemui di Hotel Sultan, Jakarta,
Selasa (3/12/2013).
Chairul menilai kebijakan
BI menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) memang bertujuan mengedalikan inflasi
dan defisitf neraca transaksi berjalan. Sayangnya, kebijakan tersebut bagaikan pisau bermata dua. Investor menyadari bahwa tingginya bunga acuan
dapat mengendalikan inflasi dan nilai tukar namun juga berimbas pada perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Kondisi ini memicu sentimen negatif terhadap
perekonomian Indonesia yang ditandai dengan penarikan modal asing ke luar
negeri. Akibatnya nilai tukar rupiah terus terpersok bahkan
melewati Rp 11.500 per dolar AS.
"Ketidakpastian global dan domestik ternyata
lebih tinggi dari perkiraan semula, ternyata sulit mengantisipasi dengan akurat
apa yang akan terjadi, walaupun hanya satu tahun kedepan," tegasnya.
KEN
menilai ketidakpastian ekonomi global maupun domestik masih akan tinggi pada
2014 meski banyak pihak berharap
perekonomian dunia akan sedikit lebih baik. Ekonomi dunia masih harus
menghadapi risiko yang sama besarnya dari kejutan yang dibuat AS terkait kebijakan
tapering maupun isu batas utang dan anggaran yang belum tuntas.
Dengan berbagai risiko yang muncul, KEN memperkirakan
faktor global dan domestik masih akan terus menekan laju ekonomi Indonesia.
Rupiah diperkirakan terus mengalami
pelemahan hingga pertengahan tahun 2014 mendatang. Hal ini dipengaruhi
penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden pada tahun depan.
Ekonom Senior Standard Chartered, Fauzi
Ichsan mengatakan, rupiah akan terus mengalami pelemahan ke arah Rp 12.500
pada semester pertama.
"Semester pertama rupiah akan melemah ke arah Rp
12.500 karena tekanan dari tapering quantitative easing. Menurut Fauzi,
perbaikan neraca perdagangan serta memperbaiki posisi rupiah terhadap dolar
Amerika Serikat hingga akhir tahun ini hanya akan tergantung pada kebijakan
yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) dengan kebijakan kontraksi fiskal dan
pengetatan moneter.
"Pada masa Suharto, kontraksi fiskal bisa
dilakukan dengan membatalkan proyek-proyek besar dan menaikan harga BBM, tetapi
sekarang hal itu tidak bisa karena mau pemilu, sehingga sekarang diserahkan ke
BI," lanjutnya.
Selain itu, dia memprediksi pertumbuhan ekonomi pada
tahun depan akan mencapai 5,8% karena dibantu oleh stimulus oleh pemilu. Namun
tingkat inflasi akan menurun karena kemungkinan pemerintah tidak akan menaikan
harga BBM. Defisit neraca berjalan juga diperkirakan mengalami menurunan dari
US$ 3,2 miliar dolar menjadi US$ 2,8 miliar.
"Jadi siapapun yang akan menjadi Presiden pada
tahun depan, dia harus mengeluarkan kebijakan pro investor karena kita tidak
punya pilihan lain kecuali Indonesia surplus pada neraca berjalan,"
jelasnya.
Kembali melemahnya rupiah terhadap
terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal memberikan dampak terhadap komoditas
impor. Ketidakstabilan inilah yang kini menyelimuti pengusaha makanan dan
minuman mengingat ketergantungannya pada bahan baku impor.
"Meski bahan bakunya dipasok oleh industri dalam
negeri, tapi sebagian besar masih impor, misalnya gula impor seperti gula
rafinasi kan dari raw sugar
masih impor. Kemudian kedelai impor, jagung impor, terigu impor, hampir semua
masih impor," ujar Ketua Umum Gabungan
Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman di
Jakarta.
Meski saat ini belum berdampak besar, pelemahan rupiah
yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama dikhawatirkan memukul industri
makanan dan minuman nasional.
"Sekarang akan berdampak langsung pada produksi
karena sebagian besar bahan baku impor. Sehingga pengaruhnya sangat signifikan.
Rupiah sendiri sudah terdepresiasi tentu akan berpengaruh secara
langsung," lanjutnya.
Hingga kini kalangan pelaku usaha mengaku masih
kesulitan menghitung dampak dari pelemahan rupiah yang telah berlangsung sejak
dua bulan lalu. "Kami kesulitan menghitung patokan kursnya karena tadinya
sudah stabil Rp 11.500 sekarang belum ada patokan kursnya," katanya.
Ditambahkannya, pelemahan rupiah yang berlangsung
hingga tahun depan hanya akan membuat industri makanan dan minuman terpaksa menaikan harga jual produknya.
Tak hanya kurs rupiah, pelaku usaha juga mengaku harus
menghitung dampak dari kenaikan upah minimum provinsi (UMP) pada biaya produksi
perusahaan. "Gas juga sedang dalam pembahasan, nanti meski harga gas tidak
naik tapi tetap saja bayarnya pakai dolar jadi sama saja," jelasnya.
Melihat kondisi tersebut, GAPMMI berharap pemerintah mampu segera menstabilkan nilai tukar
rupiah agar pelaku usaha dapat menjalankan bisnis dengan baik.
Ketidakpastian
kebijakan stimulus di Amerika Serikat (AS) ternyata menyebabkan terjadinya
pelepasan aset untuk ditukar ke Dolar AS. Akibatnya, Dolar AS menguat terhadap
sebagian besar mata uang dunia, termasuk Rupiah yang kini berada di level Rp 11
ribu per US$.
------------------------------------------------------------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar